Saturday, April 20, 2013

Ketika kita punya keinginan.





"Close your eyes and clone yourself
Build your heart an army
To defend your innocence
While you do everything wrong
Don't be scared to walk alone
Don't be scared to like it
There's no time that you must be home
So sleep where your darkness falls."



-oOo-

"Gue bakal bikin negara gue bisa disayangi sama semua warga negaranya."



Keinginan itu terwujudkan sejengkal demi sejengkal. Atau, keinginan yang besar itu bisa terwujudkan dengan terwujudnya keinginan-keinginan yang kecil.

Kurang dari 3 bulan sejak ketemu Andri (baca disini), aku dikasih amanah untuk jadi kepala divisi bagian artistik dan skenografi dari rangkaian acara Tanggap Warsa (TW, ulang tahun) unitku, Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB, yang ke 42, dengan acara puncak berupa pagelaran drama tari berjudul Prahara Lembah Serayu. Berkaitan dengan amanah itu, dua bulan kemudian aku diberi kesempatan berangkat ke ISI Surakarta bareng beberapa temen dari PSTK ITB, khusus untuk belajar seni tari, karawitan, tata rias, dan tata panggung (skenografi).

Dari November 2012, bahkan sebelumnya, kami bermimpi bareng-bareng mengenai pagelaran kami, konsep panggung apa, cerita apa, efek lampu apa, tarian apa, dan segala hal yang menambah nilai pagelaran kami. Aku ngotot memilih panggung outdoor dengan segala konsep yang aku tawarkan, yang untungnya didukung oleh seluruh panitia walaupun kami ga pernah tau cuaca dari tanggal yang kami pilih, yaitu 14 April 2013, akan seperti apa. Oiya, dan sudah bertahun-tahun sejak pagelaran PSTK ITB memakai panggung outdoor.


Keajaiban dari Tuhan datang bukan tanpa halangan, bukan tanpa cobaan.


Dengan menantang ketidakmasukakalan, dengan semangat untuk mewujudkan keinginan bareng-bareng satu PSTK. Mulai dari ganti cerita saat udah hampir fiksasi konsep artistik dan pagelaran H-60, demotivasi anggota-anggota divisi-divisi kepanitiaan, tiket hingga hari H baru terjual 500an dari total yang harus terjual 1000 tiket, masih defisit 10 juta rupiah H-7 pagelaran, berita duka yang datang dari kadiv logistik kami yang memaksanya untuk pulang ke rumahnya di jawa H-2 pagelaran.

Ngerjain properti artistik sampe pagi, rakor, khawatir terus deg-degan sama hari H. Belum lagi jadwal UTS yang sangat ga mendukung panitia-panitia tingkat dua untuk pulang malem tiap hari, tapi tetep harus pulang malem. Menyelipkan jadwal tidur, berusaha mengefektifkan semua waktu yang ada untuk TW, akademik, keluarga, himpunan. Mensugesti diri ini semua ga bakal sia-sia.

Walau sempet banget dan sering banget takut dan sering banget pesimistis. Ga mau bohong, kekhawatiran akan gagal di akademik dan gagal di pagelaran ini sangat besar. Masih mending kalo yang gagal cuma salah satu, kalo yang gagal dua-duanya?

Hingga masalah terbesar, yaitu hujan saat hari H. 


Keajaiban dari Tuhan datang bukan tanpa usaha.


Hari H. Setelah minta tolong pawang hujan untuk mengatasi cuaca tanggal 14 April, hujan tetep terjadi hingga dua kali setelah jam dua siang. Sesuai plan kami berusaha nutupin bagian panggung untuk pemain dengan terpal. Setelah hujan pertama reda kami langsung ngelap bangku penonton dan ngepel panggung secara massal. Begitu juga dengan hujan yang kedua kalinya, J-0.5 open gate. Ngelap bangku penonton bareng, ngepel panggung bareng, dengan segala apapun kain yang bisa dipake untuk ngelap dan ngepel, diiringi lagu PSTK Jaya.

Berusaha nyulap Dago Tea House terbuka yang basah kuyub jadi kering. Panik bareng-bareng. Berusaha bareng-bareng mewujudkan keinginan, walaupun dihambat ketidakmasukakalan dan kepesimisan.



Semua kembali berdoa supaya cuaca ngedukung keinginan kami, mimpi kami, angan-angan kami, pemikiran kami, pengorbanan kami, yang udah kami rancang dengan semaksimal daya dan upaya kami.

Seeenggaknya untuk jam 18.30 hingga 23.00 malam itu aja...................


Tuhan bersama orang-orang yang berusaha.


Segala konsep yang tim pagelaran buat dan diwujudkan bareng dibantu oleh tim divisi artistik untuk pagelaran, berjalan dengan baik selama tiga perempat pagelaran. Sempet nangis terharu juga waktu adegan buatan kami yang cuma puluhan detik, yang dicetuskan 3 bulan sebelumnya dan direalisasikan dengan sangat hati-hati, berjalan dengan baik. 





Tiga perempat pagelaran yang berlalu dengan sangat indah, sangat sempurna, bahkan korsleting listrik yang ngeselin dan bikin lampu beam berkelap-kelip disaat yang nggak diinginkan dan nggak bisa dimatikan lewat mixer nggak bisa mengganggu keseluruhan keindahan tersebut.

Hingga langit mulai menunjukkan ada kilat dan langit malam yang cerah mulai tertutup awan gelap. Suara-suara panik di HT jadi backsound doa penuh harap dariku di belakang mixer lighting, dari semua panitia, dari semua elemen Tanggap Warsa 42 supaya hujan nggak turun di 30 menit terakhir pagelaran kami. Supaya hujan gak turun dan memulangkan semua penonton. Supaya hujan nggak turun di saat-saat terakhir terwujudnya mimpi dan keinginan kami yang udah separo jalan. 

Tuhan, kumohon, tiga puluh menit lagi aja........

Tuhan berkehendak agar alam raya berperilaku lain. Gerimis mulai turun, penonton mulai berteduh ke bagian belakang area penonton, memakai jas hujan yang disediakan panitia, dan bahkan beberapa memilih pulang............ Disaat yang tepat. Nggak pernah merasa sebersyukur ini karena doaku nggak terkabul.

Adegan-adegan terakhir adalah adegan yang ironis. Ratu bersama seluruh wanita di suatu kerajaan yang bunuh diri bersamaan karena kalahnya mereka dalam perang melawan kerajaan lain. Ditambah dengan adegan diangkutnya jenazah raja yang kalah perang diiringi oleh tarian dupa. Tarian topeng. Followspot biru, gerimis yang perlahan menderas beserta kilat-kilat dari kejauhan, obor-obor menyala redup di bangku penonton, dan bau dupa jadi satu, turut menambah suasana kemistisan dan kesedihan.


Tuhan memang skenografer terbaik yang pernah ada.




Ketika kita punya keinginan, dan keinginan itu baik buat kita, Tuhan dan Alam RayaNya akan mewujudkannya..... 
Mungkin terwujudnya tidak sesuai, bahkan jauh, dari rencana kita. Mungkin terwujudnya dalam kondisi sangat tidak ideal. 
Tapi pada akhirnya kita selalu tahu kalau rencana Tuhan itu selalu lebih hebat dari rencana umatNya :)

Setelah pagelaran selesai, gerimis pun reda, anehnya.

Total penonton? 800 penonton, dengan sebagian besar masih bertahan hingga pagelaran selesai, walaupun hujan :) Subhanallah.

-

Berkaitan dengan keinginanku, terima kasih ya Allah atas kesempatan yang Kau berikan untukku mewujudkan keinginanku ngebangun rasa sayang untuk Indonesia. Terima kasih pada aspek-aspek penyokong pagelaran ini, terima kasih karena udah sangat membantu mewujudkan seperseratus dari keinginanku. Terima kasih telah optimis dikala aku pesimis. Terima kasih atas segala kesempatannya untuk belajar, untuk momen-momen senang dan susah yang pastinya akan aku ceritain ke anak cucu.
Tidak lupa terima kasih yang sangat tak terkira untuk semua anggota divisi artistik. Kalian keren! Semoga dapet ilmu yang setimpal ya!

And for Andri, even though so little probability for you to read this post, thank you bro, ditunggu di Indonesia.

Niken Noor Triastuti Murty Vijaya
13111089
Proud member of PSTK ITB


*dokumentasinya dari Mas Ian, LITA FM, dan Mas Rio. Makasih banyak :)

-oOo- 




"Cause God knows it's been done to you
And somehow you got through it.

Alive in the age of worry
Rage in the age of worry
Sing out in the age of worry
And say worry, why should I care?"


*backsong: The Age Of Worry, John Mayer

2 comments: